
🏠 Beranda › Berita › Brent Tembus US$110, Serangan Maut di Sa…
Oil
Brent Tembus US$110, Serangan Maut di Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan!
- Brent untuk pengiriman Desember naik 1,2% merupakan US$110,08 per barel pada
- minyak Shaybah milik Saudi Aramco menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya
- Ketegangan geopolitik terus membayangi bursa minyak setelah
- strategis Arab Saudi
- memaparkan pemulihan dan mendekati tingkat sebelum perang, termasuk dari Kuwait
- keterbatasan kapal tanker serta tingginya risiko keamanan
- Serikat pada November mendatang
- gambaran beragam mengenai keseimbangan pasokan energi
- kembali meningkat, harga minyak berpotensi melanjutkan penguatan
Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis
(22/10/2026), dipicu meningkatnya kekhawatiran kepada gangguan pasokan energi
setelah serangan drone menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi. Minyak mentah
Brent untuk pengiriman Desember naik 1,2% merupakan US$110,08 per barel pada
Brent untuk pengiriman Desember naik 1,2% merupakan US$110,08 per barel pada
pukul 07.02 WIB, sementara West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan 1% ke level
US$98,12 per barel. Penguatan ini terjadi setelah serangan kepada ladang
minyak Shaybah milik Saudi Aramco menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya
minyak Shaybah milik Saudi Aramco menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya.
Meski operasional ladang minyak dilaporkan tidak terganggu, insiden tersebut
kembali meningkatkan kekhawatiran kepada keamanan infrastruktur energi Timur
Tengah. Amerika Serikat juga memerintahkan sebagian personel kedutaan beserta
keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi sebagai langkah antisipasi meningkatnya
ancaman keamanan.
Ketegangan geopolitik terus membayangi bursa minyak setelah
Ketegangan geopolitik terus membayangi bursa minyak setelah
Iran meningkatkan aktivitas serangan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat
Hormuz, sementara kelompok Houthi Yaman terus mengancam sejumlah fasilitas
strategis Arab Saudi
strategis Arab Saudi. Sejak awal tahun, harga Brent dilaporkan telah melonjak
sekitar 80% akibat konflik AS-Iran yang mengganggu distribusi energi dari
kawasan Teluk Persia. Namun, ekspor minyak mentah Timur Tengah mulai
memaparkan pemulihan dan mendekati tingkat sebelum perang, termasuk dari Kuwait
memaparkan pemulihan dan mendekati tingkat sebelum perang, termasuk dari Kuwait
yang kembali meningkatkan aktivitas pengiriman. Meski demikian, pengiriman
produk olahan seperti solar dan bahan bakar pesawat masih menghadapi
keterbatasan kapal tanker serta tingginya risiko keamanan
keterbatasan kapal tanker serta tingginya risiko keamanan. Kondisi ini membuat
harga produk energi olahan tetap tinggi meskipun pasokan minyak mentah
berangsur pulih.
Di sisi lain, market masih dibayangi kemungkinan
meningkatnya ketegangan militer setelah muncul laporan mengenai rencana
serangan lanjutan AS dan Israel kepada Iran seusai pemilu paruh waktu Amerika
Serikat pada November mendatang
Serikat pada November mendatang. Sementara itu, data persediaan energi AS
memaparkan stok minyak mentah turun lebih dari 3 juta barel, sedangkan
persediaan produk distilat meningkat sekitar 1,7 juta barel, memberikan
gambaran beragam mengenai keseimbangan pasokan energi
gambaran beragam mengenai keseimbangan pasokan energi. Pelaku peringkat kini
mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, keamanan Selat Hormuz, serta
kemampuan negara-negara produsen mempertahankan ekspor minyak. Jika ketegangan
kembali meningkat, harga minyak berpotensi melanjutkan penguatan
kembali meningkat, harga minyak berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya,
normalisasi pengiriman dan kemajuan diplomasi dapat membatasi kenaikan harga.
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
📰 Sumber asli: newsmaker