Emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa dengan Gold?
Emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa dengan Gold?

🏠 Beranda β€Ί Berita β€Ί Emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa d…

Gold

Emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa dengan Gold?

πŸ“… 2026-10-22   πŸ• 11:21   ⏱️ 2 menit baca   πŸ“° Sumber: Newsmaker.idπŸ’¬ WAπŸ“˜ FB🐦 X

Emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa dengan Gold?

Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), setelah menembus level psikologis US$4.100 per troy ounce. Berdasarkan pantauan market, emas spot (XAU/USD) merosot ke sekitar US$4.088,80 atau mengalami penurunan 1,30%, memperpanjang tekanan jual yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor kepada prospek suku bunga Amerika Serikat (AS), di tengah ketidakpastian ekonomi internasional dan konflik geopolitik yang belum mereda.

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah kekhawatiran inflasi AS akibat tingginya harga minyak dunia. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan kepada infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak, meningkatkan risiko kenaikan biaya energi. Kondisi tersebut dapat membuat inflasi bertahan lebih lama dan mendorong Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat. Situasi ini merupakan tantangan bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.

Menariknya, penurunan emas kali ini terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) juga mengalami penurunan 0,10% ke level 101,247, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,082%. Kondisi tersebut menyiratkan bahwa tekanan kepada emas tidak semata-mata disebabkan oleh penguatan dolar atau kenaikan yield. Aksi ambil untung, penyesuaian posisi menjelang keputusan The Fed, serta kemungkinan likuidasi pada peringkat logam mulia turut berpotensi memperbesar tekanan jual. Pelemahan juga melanda perak yang turun 2,71% ke sekitar US$56,405 per troy ounce.

Pelaku peringkat kini menantikan pertemuan kebijakan moneter The Fed pada 27–28 Oktober 2026. Bank sentral AS diestimasi mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut, tetapi ekspektasi kenaikan bunga pada Desember masih membayangi pasar. Ketidakpastian ini membuat investor lebih berhati-hati dalam menambah posisi emas, meskipun konflik Timur Tengah secara historis dapat meningkatkan permintaan kepada komoditas aman.

Ke depan, harga emas berisiko melanjutkan pelemahan apabila tekanan jual bertahan dan ekspektasi suku bunga tinggi semakin naik. Secara teknikal, kawasan US$4.073 merupakan area support yang perlu diperhatikan, sementara US$4.100 hingga US$4.135 berpotensi menjadi hambatan awal apabila harga mencoba pulih. Namun, pelemahan dolar AS, penurunan yield Treasury, atau perubahan sikap The Fed yang lebih dovish dapat membuka peluang rebound. Untuk kini, perhatian investor tertuju pada apakah emas mampu kembali merebut US$4.100 atau justru melanjutkan penurunan menuju US$4.000 per troy ounce.(asd)

Disclaimer: artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

πŸ“ˆ Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β€” broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

πŸ“° Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya β€’ Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
πŸ“– Baca juga: Kalkulator Emas • Glossarium Trading

πŸ“° Sumber asli: newsmaker