π Beranda βΊ Berita βΊ Trump Tahan Serangan Iran, minyak Mulai β¦
Oil
Trump Tahan Serangan Iran, Minyak Mulai Tertekan
- mendekati US$103 per barel, sementara WTI bergerak di bawah US$91 setelah
- risiko geopolitik yang di awal mendorong harga minyak
- kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara blokade AS kepada pelabuhan Iran
- konfirmasi independen
- sinyal bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat
- dihentikan, atau lebih dari 60% produksi kawasan tersebut
- risiko geopolitik
- badai, premi risiko masih akan bertahan
Harga minyak kembali melemah
setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan
menyerang Iran sebelum pemilihan umum sela pada 3 November. Harga Brent turun
mendekati US$103 per barel, sementara WTI bergerak di bawah US$91 setelah
mendekati US$103 per barel, sementara WTI bergerak di bawah US$91 setelah
di awal melonjak lebih dari 4% pada Kamis. Pernyataan Trump mengenai adanya
βdiskusi produktifβ dengan Iran membuat market mulai mengurangi sebagian premi
risiko geopolitik yang di awal mendorong harga minyak
risiko geopolitik yang di awal mendorong harga minyak.
Meski demikian, risiko gangguan
pasokan belum sepenuhnya hilang. Iran masih meningkatkan serangan kepada
kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara blokade AS kepada pelabuhan Iran
kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara blokade AS kepada pelabuhan Iran
tetap diberlakukan. Laporan mengenai dugaan kapal tanker terkena ranjau di
sekitar Hormuz juga menambah ketidakpastian, meskipun belum mendapatkan
konfirmasi independen
konfirmasi independen. Kondisi ini membuat pelaku market tetap berhati-hati
untuk mengambil posisi jual agresif meskipun harga mulai terkoreksi.
Di sisi lain, market mendapatkan
sinyal bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat
sinyal bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat. Trump menyebut
sekitar 22 juta barel minyak mengalir melalui jalur tersebut dalam satu malam,
meskipun angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi sejumlah pelaku
industri. Pemulihan arus pasokan berpotensi mengurangi tekanan di bursa fisik,
tetapi biaya pengangkutan minyak dari Teluk Persia menuju Asia Timur masih
melonjak lebih dari enam kali lipat dibandingkan sebelum konflik.
Tekanan terhadap pasokan juga
datang dari Amerika Serikat setelah Badai Isaias mengganggu produksi minyak di
Teluk Meksiko. Sekitar 1,3 juta barel per hari produksi minyak mentah telah
dihentikan, atau lebih dari 60% produksi kawasan tersebut
dihentikan, atau lebih dari 60% produksi kawasan tersebut. Ancaman badai
kepada fasilitas produksi dan kilang membuat penurunan harga minyak merupakan
terbatas karena market masih memperhitungkan potensi gangguan pasokan dari AS di
tengah ketidakpastian Timur Tengah.
Newsmaker melihat, market minyak
kini berada dalam tarik-menarik antara membaiknya pasokan dan tingginya
risiko geopolitik
risiko geopolitik. Pernyataan Trump memberikan tekanan turun karena mengurangi
kemungkinan eskalasi langsung AS-Iran dalam jangka pendek. Namun, selama
serangan kepada kapal di Hormuz berlanjut dan produksi AS terganggu akibat
badai, premi risiko masih akan bertahan
badai, premi risiko masih akan bertahan. Jika diplomasi AS-Iran semakin maju
dan arus minyak terus pulih, Brent berpotensi kembali tertekan menuju bawah
US$100. Sebaliknya, eskalasi baru di Hormuz dapat dengan cepat mendorong harga
kembali naik.
π Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.