π Beranda βΊ Berita βΊ Minyak Melemah, Trump Redakan Risiko Iraβ¦
Oil
Minyak Melemah, Trump Redakan Risiko Iran
- turun 0,4% ke US$103,94 per barel, sementara WTI melemah 0,2% ke US$91,27
- Di sisi lain, laporan mengenai rencana serangan selama tiga hari yang telah
- dalam waktu dekat, bukan berakhirnya konflik maupun ancaman kepada pasokan
- Hurricane Isaias telah menyebabkan sekitar 1,3 juta barel per hari produksi
- dari Timur Tengah, sehingga bursa masih menghadapi ketidakpastian dari dua
- menambah ketidakpastian kepada keamanan jalur perdagangan energi
- gangguan produksi akibat badai dan risiko keamanan di Selat Hormuz merupakan
Harga minyak melemah pada
perdagangan Jumat (9/10) setelah Presiden AS Donald Trump menuturkan Amerika
Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela pada 3 November. Brent
turun 0,4% ke US$103,94 per barel, sementara WTI melemah 0,2% ke US$91,27
turun 0,4% ke US$103,94 per barel, sementara WTI melemah 0,2% ke US$91,27.
Pernyataan tersebut mengurangi kekhawatiran market kepada potensi eskalasi
langsung antara Washington dan Tehran setelah sejak lama harga minyak melonjak
akibat meningkatnya risiko konflik.
Trump juga menyatakan pembicaraan
dengan Iran berlangsung produktif, meskipun ketegangan di kawasan masih tinggi.
Di sisi lain, laporan mengenai rencana serangan selama tiga hari yang telah
Di sisi lain, laporan mengenai rencana serangan selama tiga hari yang telah
disiapkan Pentagon menyiratkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Karena itu, pelemahan minyak lebih mencerminkan berkurangnya risiko eskalasi
dalam waktu dekat, bukan berakhirnya konflik maupun ancaman kepada pasokan
dalam waktu dekat, bukan berakhirnya konflik maupun ancaman kepada pasokan
Dari sisi pasokan, tekanan
kepada harga masih tertahan oleh gangguan produksi di Amerika Serikat.
Hurricane Isaias telah menyebabkan sekitar 1,3 juta barel per hari produksi
Hurricane Isaias telah menyebabkan sekitar 1,3 juta barel per hari produksi
minyak di Teluk Meksiko dihentikan, atau lebih dari 60% produksi kawasan tersebut.
Gangguan ini merupakan perhatian karena terjadi bersamaan dengan risiko pasokan
dari Timur Tengah, sehingga bursa masih menghadapi ketidakpastian dari dua
dari Timur Tengah, sehingga bursa masih menghadapi ketidakpastian dari dua
kawasan produksi penting.
Selat Hormuz juga tetap merupakan
faktor utama. Meskipun arus minyak melalui jalur tersebut mulai meningkat,
serangan kepada kapal dan meningkatnya biaya pengiriman masih memberikan
premi risiko pada harga minyak. Konflik antara Houthi dan Arab Saudi turut
menambah ketidakpastian kepada keamanan jalur perdagangan energi
menambah ketidakpastian kepada keamanan jalur perdagangan energi. Dengan
demikian, market masih memiliki alasan untuk mempertahankan harga minyak di
level tinggi meskipun risiko serangan AS kepada Iran untuk sementara mereda.
Newsmaker melihat, harga minyak
masih berada dalam kondisi volatil dengan dua katalis yang berlawanan.
Meredanya risiko serangan AS kepada Iran memberikan tekanan turun, sementara
gangguan produksi akibat badai dan risiko keamanan di Selat Hormuz merupakan
gangguan produksi akibat badai dan risiko keamanan di Selat Hormuz merupakan
penopang harga. Dalam jangka pendek, arah minyak akan sangat bergantung pada
perkembangan pembicaraan AS-Iran, kondisi pelayaran di Hormuz, serta pemulihan
produksi AS. Jika ketegangan geopolitik terus mereda dan produksi kembali
normal, Brent berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut. Sebaliknya, eskalasi
baru dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko ke bursa.
π Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.