π Beranda βΊ Berita βΊ Minyak Dekati Tertinggi 5 Bulan, Selat Hβ¦
Oil
Minyak Dekati Tertinggi 5 Bulan, Selat Hormuz Kembali Memanas!
Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (20/10/2026), mendekati level tertinggi dalam lima bulan terakhir iring-iringan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Minyak mentah Brent naik 0,8% merupakan US$110,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,3% ke posisi US$105,02 per barel pada pukul 15.15 WIB. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran peringkat kepada serangan baru terhadap kapal-kapal pengangkut minyak di kawasan Teluk Persia serta ancaman kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.
Ketegangan semakin meningkat setelah Wakil Presiden Pertama Iran menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki pilihan selain mempertahankan kedaulatan atas Selat Hormuz. Pernyataan tersebut kembali mengguncang market energi mengingat jalur perairan strategis itu merupakan salah satu pintu utama distribusi minyak dunia. Di awal, harga minyak sempat turun setelah muncul laporan mengenai kemungkinan kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, harapan meredanya konflik tidak berlangsung lama setelah ancaman gangguan pengiriman minyak kembali meningkat.
Di tengah situasi tersebut, pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia kini menghadapi risiko serius. Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright sejak awal menyatakan bahwa aliran minyak mentah dari kawasan Teluk telah pulih hingga sekitar 80% dibandingkan kondisi sebelum perang, meskipun pengiriman produk olahan masih terbatas. Namun, meningkatnya serangan kepada kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz berpotensi memperlambat pemulihan tersebut. Kelompok Houthi juga dilaporkan mengklaim serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Arab Saudi, termasuk infrastruktur energi, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan produksi dan distribusi minyak kawasan.
Pelaku peringkat kini semakin mencermati perkembangan konflik Iran
Pelaku peringkat kini semakin mencermati perkembangan konflik Iran, aktivitas kelompok Houthi, serta kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jika serangan kepada kapal dan fasilitas energi terus meningkat, harga minyak Brent berpotensi mempertahankan momentum penguatan bahkan menguji level yang lebih tinggi. Sebaliknya, kemajuan diplomasi serta normalisasi jalur pengiriman minyak dapat meredakan tekanan pasokan dan membatasi kenaikan harga. Kondisi ini membuat pasar energi dunia tetap berada dalam ketidakpastian, dengan risiko geopolitik merupakan faktor utama penentu arah harga minyak dalam jangka pendek.
Harga minyak dunia masih memiliki kecenderungan bullish karena meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Selama aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya normal dan ancaman serangan Houthi masih berlangsung, Brent berpeluang menguji area US$112β115 per barel. Namun, potensi kesepakatan diplomatik ASβIran tetap merupakan faktor yang dapat memicu koreksi harga.
Kenaikan minyak yang berkepanjangan juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi mancanegara, termasuk bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
π Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.