π Beranda βΊ Berita βΊ Minyak Naik, Serangan di Hormuz Kembali β¦
Oil
Minyak Naik, Serangan di Hormuz Kembali Memanas!
- kawasan tersebut
- Timur Tengah kini pulih sekitar 80% dari level sebelum konflik
- sepenuhnya longgar
- data resmi persediaan minyak AS untuk melihat apakah penurunan stok tersebut
- badai dan berpotensi mengganggu aktivitas produksi minyak serta gas lepas
- rencana pelepasan cadangan G7 merupakan faktor yang menahan kenaikan, sementara
- kenaikan berpotensi terbatas
Harga minyak kembali mengalami kenaikan pada
perdagangan Rabu (7/10), setelah peringkat mempertimbangkan pemulihan arus
pengiriman melalui Selat Hormuz dan meningkatnya serangan kepada kapal di
kawasan tersebut
kawasan tersebut. Brent kembali bergerak di atas US$101 per barel, sementara
WTI mendekati US$90. Membaiknya arus pasokan memang mengurangi kekhawatiran
kelangkaan, tetapi risiko gangguan jalur perdagangan membuat investor tetap
memasukkan premi geopolitik ke dalam harga minyak.
Arus minyak melalui Selat Hormuz
disebut telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan pasokan dari
Timur Tengah kini pulih sekitar 80% dari level sebelum konflik
Timur Tengah kini pulih sekitar 80% dari level sebelum konflik. Namun,
aktivitas kapal masih menghadapi risiko keamanan. Otoritas perdagangan maritim
Inggris melaporkan sedikitnya sembilan serangan di kawasan tersebut sepanjang
Oktober. Jika serangan semakin intensif hingga menghambat ayunan tanker,
pemulihan pasokan dapat kembali terganggu.
Kondisi peringkat fisik juga belum
sepenuhnya longgar
sepenuhnya longgar. Persediaan minyak dan produk bahan bakar dunia terus
merupakan perhatian, sementara stok minyak mentah Amerika Serikat diestimasi
turun sekitar 2,1 juta barel dalam sepekan terakhir. Investor kini menunggu
data resmi persediaan minyak AS untuk melihat apakah penurunan stok tersebut
data resmi persediaan minyak AS untuk melihat apakah penurunan stok tersebut
benar-benar terjadi. Di sisi lain, rencana pelepasan hingga 100 juta barel
minyak mentah dan diesel oleh G7 juga akan merupakan perhatian market.
Selain Timur Tengah, peringkat minyak
Amerika Serikat menghadapi risiko tambahan dari potensi badai tropis di kawasan
Teluk Meksiko. Sistem cuaca tersebut ditaksir dapat berkembang merupakan
badai dan berpotensi mengganggu aktivitas produksi minyak serta gas lepas
badai dan berpotensi mengganggu aktivitas produksi minyak serta gas lepas
pantai jika jalurnya berubah. Sejumlah perusahaan energi juga mulai mengambil
langkah antisipasi, meskipun sejauh ini belum ada perubahan besar kepada
tingkat produksi.
Newsmaker melihat, fundamental minyak sekarang
masih cenderung bullish tetapi sangat volatil. Pemulihan arus minyak dan
rencana pelepasan cadangan G7 merupakan faktor yang menahan kenaikan, sementara
rencana pelepasan cadangan G7 merupakan faktor yang menahan kenaikan, sementara
serangan kepada kapal, stok mancanegara yang menipis, dan risiko gangguan
infrastruktur merupakan penopang harga. Selama Selat Hormuz tetap terbuka,
kenaikan berpotensi terbatas
kenaikan berpotensi terbatas. Namun, eskalasi konflik yang mengganggu jalur
ekspor dapat dengan cepat mendorong harga minyak lebih tinggi.
π Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.