Red oil drums sitting on Russian flag. Horizontal composition with copy space. Russian oil industry concept.

Brent Rebound, Risiko Rusia Jadi Pemicu

📅 2026-08-27
🕐
📰 Sumber: newsmaker.id

Harga minyak berbalik melonjak pada perdagangan Rabu (26/8) setelah laporan menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin tengah mempersiapkan eskalasi serangan kepada Ukraina. Brent naik sekitar 0,5% ke US$89,05 per barel, sementara WTI menguat 0,8% ke US$82,98, membalikkan pelemahan yang sempat terjadi di awal.

Suasana pasar berubah setelah Bloomberg melaporkan Rusia menilai negosiasi damai dengan Ukraina telah menemui jalan buntu. Kekhawatiran market meningkat karena serangan Ukraina kepada kilang dan pelabuhan Rusia dalam beberapa bulan terakhir telah membatasi pasokan produk bahan bakar sekaligus mengurangi kemampuan Moskow mengalihkan minyak mentah ke pasar ekspor.

Tekanan paling kuat terlihat pada peringkat produk olahan. Harga diesel di New York telah meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun, sementara data Energy Information Administration memaparkan persediaan diesel dan bensin AS turun ke level musiman terendah dalam catatan, meski stok minyak mentah nasional hanya naik tipis sekitar 60 ribu barel pekan lalu.

Sejak awal, minyak sempat tertekan karena

Sejak awal, minyak sempat tertekan karena Iran dan Oman mendorong pembentukan koridor pelayaran sementara di Selat Hormuz. AS juga sejauh ini menahan diri dari penerapan sanksi sekunder besar bagi mitra dagang Iran, termasuk perusahaan keuangan China, sehingga bursa mulai memangkas premi risiko konflik Timur Tengah.

Arus minyak dari Teluk juga mulai menjelaskan tanda pemulihan. Presiden AS Donald Trump mengklaim sekitar 10 juta barel minyak keluar melalui Hormuz pada Selasa, sementara aktivitas pengiriman Saudi di dalam Teluk Persia juga dilaporkan meningkat. Namun, pelayaran belum kembali normal dan risiko serangan bagi kapal masih bertahan.

Tinjauan Newsmaker: minyak kini menghadapi dua psikologi pasar yang berlawanan. Kemajuan diplomasi Hormuz berubah jadi faktor bearish, tetapi potensi eskalasi Rusia–Ukraina dan ketatnya pasokan diesel kembali memberikan risk premium bullish. Selama Brent bertahan di sekitar US$88–US$89, market berpeluang kembali menguji US$90, terutama jika serangan bagi infrastruktur energi Rusia meningkat. Sebaliknya, pembukaan Hormuz yang lebih cepat dapat kembali membatasi reli minyak. (arl)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures