
π Beranda βΊ Berita βΊ emas Terjun Bebas 3,5%, Harga Sentuh Terβ¦
Gold
Emas Terjun Bebas 3,5%, Harga Sentuh Terendah Setahun
Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (30/10/2026), menyentuh level terendah dalam satu tahun terakhir setelah aksi jual saham teknologi Amerika Serikat memicu tekanan di market keuangan internasional.
Emas spot (XAU/USD) anjlok 3,5% merupakan US$3.880,97 per troy ounce, terendah sejak Oktober 2025, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup mengalami penurunan 3,3% menjadi US$3.898,90 per troy ounce. Pelemahan juga melanda logam mulia lainnya, dengan harga perak merosot 6,5% menjadi US$49 per ounce, menembus level US$50 untuk pertama kalinya dalam 11 bulan.
Sementara itu, paladium turut jatuh ke bawah US$1.000 per ounce. Tekanan jual tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor kepada keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) setelah pelemahan saham teknologi memicu aksi pengurangan risiko secara luas.
Penurunan emas semakin dalam akibat meningkatnya kebutuhan likuiditas investor ketika market saham mengalami koreksi tajam. Analis Commerzbank menilai aksi jual saham teknologi kemungkinan memicu penjualan paksa kepada sejumlah komoditas, termasuk emas, untuk memenuhi kebutuhan tambahan jaminan atau margin call. Kondisi ini menjelaskan mengapa emas yang biasanya dianggap sebagai aset aman justru ikut mengalami tekanan ketika Wall Street mengalami penurunan. Di sisi lain, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi lebih lama serta melemahnya permintaan emas di Asia turut membatasi pemulihan harga.
Sejak mencapai rekor tertinggi US$5.595 per troy ounce pada Januari, emas telah kehilangan sekitar 30% nilainya. Meski demikian, sejumlah analis menilai pembelian emas oleh bank sentral berpotensi meningkat ketika harga berada di bawah US$4.000, sehingga dapat memberikan dukungan kepada bursa dalam jangka menengah.
Tekanan yang lebih besar terlihat pada perak, platinum, dan paladium yang mengalami penurunan mingguan sekitar 7% hingga 9%. Indikator Relative Strength Index (RSI) ketiga logam tersebut dilaporkan telah memasuki wilayah jenuh jual (oversold) terdalam dalam tiga tahun, memaparkan kuatnya momentum pelemahan.
Berbeda dengan emas yang memperoleh dukungan dari permintaan bank sentral dan kebutuhan diversifikasi instrumen aman, perak serta logam putih lainnya lebih sensitif kepada prospek pertumbuhan industri mancanegara. HSBC memperkirakan rata-rata harga perak pada 2027 mencapai US$64 per ounce, lebih rendah dibandingkan proyeksi rata-rata tahun ini sebesar US$71. Sementara itu, rasio harga emas terhadap perak meningkat merupakan 79, tertinggi dalam 11 bulan, mencerminkan kinerja perak yang semakin tertinggal. Investor kini mencermati stabilitas Wall Street, prospek investasi AI, serta arah kebijakan Federal Reserve untuk menilai peluang pemulihan market logam mulia setelah tekanan jual yang berkepanjangan.
Penurunan emas hingga ke bawah US$3.900 menyiratkan bahwa tekanan jual tidak lagi hanya dipengaruhi ekspektasi suku bunga tinggi, tetapi juga kebutuhan likuiditas akibat kepanikan di market saham teknologi. Meskipun emas memiliki karakter sebagai komoditas aman, penjualan paksa untuk memenuhi kebutuhan dana dapat membuat harganya ikut tertekan ketika terjadi koreksi besar di pasar keuangan.
Pandangan Newsmaker: Pelemahan emas di tengah memperlihatkan bahwa status safe haven tidak selalu menjamin kenaikan harga ketika bursa mengalami tekanan likuiditas. Peluang pemulihan masih terbuka, tetapi membutuhkan stabilisasi pasar saham, meredanya penjualan paksa, serta perubahan ekspektasi kebijakan The Fed.
π Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
π° Sumber asli: newsmaker