π Beranda βΊ Berita βΊ Yield Treasury Melonjak, emas Kehilanganβ¦
Gold
Yield Treasury Melonjak, Emas Kehilangan Daya Tarik
- pada Senin (29/09), mencapai level terendah dalam tujuh pekan
- perdagangan energi strategis dalam tujuh hari, peringkat memperkirakan gangguan
- setelah penolakan proposal Iran oleh Trump, mendorong imbal hasil obligasi naik
- beberapa waktu terakhir
- kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%
- Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu dan laporan Non-Farm Payrolls (NFP)
- kuat, peluang kenaikan suku bunga tambahan dapat kembali memberikan tekanan
Harga emas masih berada di bawah
tekanan setelah mengalami penurunan tajam pada perdagangan di awal. Logam
mulia diperdagangkan di sekitar US$4.125 per ounce setelah terkoreksi hampir 4%
pada Senin (29/09), mencapai level terendah dalam tujuh pekan
pada Senin (29/09), mencapai level terendah dalam tujuh pekan. Tekanan kepada
emas terjadi akibat kebuntuan hubungan Amerika Serikat dan Iran terkait
pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjaga harga energi tetap tinggi.
Ketidakpastian konflik tersebut
kembali meningkatkan kekhawatiran kepada tekanan inflasi mancanegara. Setelah
Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali jalur
perdagangan energi strategis dalam tujuh hari, peringkat memperkirakan gangguan
perdagangan energi strategis dalam tujuh hari, peringkat memperkirakan gangguan
pasokan energi dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini meningkatkan peluang
bahwa Federal Reserve (The Fed) masih perlu mempertahankan kebijakan suku bunga
tinggi untuk mengendalikan inflasi.
Tekanan terhadap emas juga
berasal dari market obligasi Amerika Serikat. Aksi jual Treasury semakin dalam
setelah penolakan proposal Iran oleh Trump, mendorong imbal hasil obligasi naik
setelah penolakan proposal Iran oleh Trump, mendorong imbal hasil obligasi naik
di berbagai tenor. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bahkan mencatat level
tertinggi dalam 19 tahun, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai komoditas yang
tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Sejak konflik AS-Iran meningkat
pada akhir Februari, harga emas telah mengalami tekanan yang lebih besar dalam
beberapa waktu terakhir
beberapa waktu terakhir. Sepanjang September, emas terekam turun sekitar 7%
setelah The Fed melakukan kenaikan suku bunga pertama sejak 2023 dan memberikan
sinyal kemungkinan adanya pengetatan tambahan. Bursa kini memperkirakan peluang
kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%
kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%.
Investor selanjutnya akan
mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, terutama Personal
Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu dan laporan Non-Farm Payrolls (NFP)
Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu dan laporan Non-Farm Payrolls (NFP)
pada Jumat. Data tersebut akan merupakan petunjuk utama mengenai arah kebijakan
moneter The Fed berikutnya. Jika tekanan inflasi dan peringkat tenaga kerja tetap
kuat, peluang kenaikan suku bunga tambahan dapat kembali memberikan tekanan
kuat, peluang kenaikan suku bunga tambahan dapat kembali memberikan tekanan
terhadap harga emas.