Brent Tertahan di US$90, Pasar Tunggu Dampak Sanksi Iran
Harga minyak bergerak stabil setelah sejak awal mengalami penurunan, sejalan pasar menilai rencana terbaru Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan ekonomi bagi Iran belum memberikan kejelasan terkait kebuntuan di Selat Hormuz. Brent di tengah ada di US$90 per barel, setelah turun lebih dari 2% pada sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di sekitar US$85 per barel.
Menteri Keuangan, AS Scott Bessent menyatakan negara-negara yang masih memiliki hubungan dengan Iran akan diberi batas waktu khusus untuk menghentikan keterkaitan tersebut atau menghadapi hukuman sepihak. Langkah ini jatuh ke bagian dari kampanye yang menyebut Washington sebagai "Hari-H Ekonomi" bagi Teheran.
Harga minyak telah melonjak lebih dari 50% sepanjang tahun ini karena perang AS-Iran yang memasuki bulan keenam terus mengganggu pengiriman minyak mentah dan bahan bakar olahan dari Timur Tengah. Namun, pasar masih memikirkan apakah strategi AS dapat membuka kembali arus energi melalui Selat Hormuz atau justru memicu risiko baru, terutama karena China berubah jadi pembeli utama minyak Iran.
Office of Foreign Assets Control menjatuhkan
Office of Foreign Assets Control menjatuhkan sanksi bagi sekitar 60 entitas, termasuk jaringan pendapatan minyak Iran dan kapal-kapal bayangan armada yang mengangkut produk minyak bumi negara tersebut. Meski begitu, sejumlah pelaku pasar menilai pengumuman itu lebih mirip sinyal kebijakan dibandingkan kejutan langsung terhadap pasokan fisik.
Haris Khurshid, Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, mengungkapkan pasar telah banyak mengantisipasi pengumuman tersebut. Menurutnya, selama sanksi sekunder belum benar-benar mengubah pihak yang dapat membeli, mengirim, atau membiayai minyak Iran, pedagang belum memiliki alasan kuat untuk selanjutnya premi geopolitik baru.
Iran menyatakan telah siap mengadakan kampanye ekonomi baru dari Washington. Menteri Ekonomi Iran SEED Ali Madanizadeh mengungkapkan negaranya sepenuhnya siap menghadapi tekanan tersebut, meskipun Iran di tengah melaporkan menghadapi kelangkaan bahan bakar dan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar.
Risiko kepada arus energi tetap tinggi
Risiko kepada arus energi tetap tinggi setelah Angkatan Laut Inggris melaporkan sebuah kapal tanker minyak terkena proyektil dan lumpuh di timur laut Ash Shishah, Oman, di wilayah Hormuz. Sejak lama, militan Houthi yang didukung Iran juga mengklaim telah menembaki supertanker Arab Saudi yang berlayar melalui Laut Merah.
Konflik ini juga menciptakan peluang margin besar bagi trader dan pemilik kapal yang membeli minyak dengan diskon kepada harga acuan mancanegara di Teluk Persia. CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne menyebut perusahaan membeli minyak di kisaran US$50βUS$60 per barel di kawasan tersebut, dengan biaya tambahan transportasi melalui selat menggunakan supertanker setara dengan sekitar US$10 per barel.
Ulasan Newsmaker: Gerakan minyak kini memaparkan pasar masih menahan diri setelah reli besar sepanjang tahun. Rencana sanksi AS memang meningkatkan tekanan kepada Iran, tetapi belum cukup jelas untuk langsung mengubah pasokan fisik atau membuka kembali arus Hormuz secara normal. Selama Brent bertahan di atas US$90, risiko geopolitik masih berubah jadi penopang utama. Namun, jika sanksi sekunder mulai menekan pembeli, pengiriman, dan pembiayaan minyak Iran, harga kembali mengalami kenaikan. Sebaliknya, jika pasar menilai langkah AS hanya sebatas peringatan politik, Brent bisa tetap bergerak sideways di area US$90βUS$94. (asd)*
π° Sumber asli: Newsmaker.id
π Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.