🏠 Beranda β€Ί Berita β€Ί Minyak Turun, Risiko Timur Tengah Masih …

Oil

Minyak Turun, Risiko Timur Tengah Masih Menahan Harga

πŸ“… 2026-10-13   πŸ• 12:01   ⏱️ 2 menit baca   πŸ“° Sumber: Newsmaker.idπŸ’¬ WAπŸ“˜ FB🐦 X

Harga minyak bergerak merosot pada perdagangan Selasa (13/10), dengan Brent berada di US$105,61 per barel dan WTI di US$93,76 per barel. Kedua acuan tersebut sejak awal melonjak hampir US$2 per barel dan Brent bahkan ditutup pada level tertinggi sejak 15 September. Pelemahan kali ini terjadi ketika market menimbang potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia dengan risiko gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia telah menyetujui peningkatan pasokan diesel ke bursa internasional. Pemerintah AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi kepada bahan bakar Rusia yang sejak lama diberlakukan untuk menekan pendapatan Moskow terkait perang di Ukraina. Tambahan pasokan tersebut berpotensi mengurangi ketatnya pasar bahan bakar global dan memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Namun, market masih skeptis kepada keberlanjutan gencatan senjata energi Rusia-Ukraina. Laporan mengenai serangan Rusia terhadap fasilitas energi Ukraina setelah pengumuman Trump menimbulkan keraguan terhadap kemampuan kesepakatan tersebut untuk benar-benar mengurangi gangguan pasokan. Sejumlah anggota parlemen AS juga mempertanyakan kebijakan tersebut karena dinilai berpotensi bertentangan dengan aturan yang melarang impor energi Rusia selama konflik masih berlangsung.

Di sisi lain, risiko kepada infrastruktur energi dan jalur pelayaran Timur Tengah masih merupakan penopang harga minyak. Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap bandara internasional Riyadh serta laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak. Kondisi ini berpotensi menghambat pemulihan pasokan Timur Tengah yang di awal mulai terlihat pada September.

OPEC juga menyoroti kenaikan biaya pengiriman dan asuransi yang disebut telah mencapai lebih dari sepertiga nilai komoditas, sehingga menghambat distribusi minyak dan produk energi. Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais menuturkan organisasi tersebut telah menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak tahun ini merupakan 400.000 barel per hari dari 1,4 juta barel per hari pada awal tahun. Kondisi tersebut menjelaskan bursa menghadapi tarik-menarik antara tambahan pasokan, risiko geopolitik, serta perlambatan pertumbuhan permintaan. (asd)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

πŸ“ˆ Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β€” broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

πŸ“° Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya β€’ Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
πŸ“– Baca juga: Glossarium Trading