🏠 Beranda › Berita › Minyak Menguat, Risiko Geopolitik Belum …
Oil
Minyak Menguat, Risiko Geopolitik Belum Mereda
Harga minyak mencatat kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut, sejalan investor masih mewaspadai berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan meragukan efektivitas gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina. Brent naik 1,8% ke US$106,65 per barel, sementara WTI menguat 2,1% ke US$93,74 per barel pada penutupan perdagangan.
Ketegangan geopolitik merupakan perhatian utama market karena risiko gangguan pasokan masih tinggi, khususnya di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah. Eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi menghambat jalur pengiriman minyak dan meningkatkan premi risiko pada harga energi. Kondisi ini membuat investor tetap berhati-hati meskipun pasokan minyak dari sejumlah wilayah masih relatif berjalan.
Sementara itu, peringkat belum sepenuhnya percaya kepada pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan Rusia dan Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Samer Hasn, analis senior XS.com, menilai pasar masih memiliki alasan untuk khawatir terhadap potensi gangguan pasokan baru selama risiko eskalasi di Timur Tengah tetap tinggi.
Newsmaker melihat
Newsmaker melihat, kenaikan Oil dalam tiga sesi terakhir memaparkan bahwa premi risiko geopolitik masih merupakan penggerak utama bursa. Jika konflik di Timur Tengah kembali meluas atau mengganggu arus minyak melalui Hormuz dan Laut Merah, harga berpotensi mendapat dorongan lebih lanjut. Sebaliknya, gencatan senjata Rusia-Ukraina yang benar-benar berjalan dan stabilnya pasokan dunia dapat mengurangi tekanan kenaikan dalam jangka menengah.
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.