π Beranda βΊ Berita βΊ Harga Minyak Kembali Naik; Ketidakpastiaβ¦
Oil
Harga Minyak Kembali Naik; Ketidakpastian Selat Hormuz Membebani Pasar Energi
Harga minyak internasional kembali melonjak dalam perdagangan hari Senin (28 September) setelah Iran bersikeras tidak akan mengubah syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, meskipun usulan tersebut sejak awal telah ditolak oleh Presiden AS Donald Trump. Minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$107 per barel, sementara WTI berada di dekat level US$94 per barel. Ketidakpastian mengenai kapan koridor energi strategis ini akan kembali beroperasi secara normal mendorong pasar untuk kembali memperhitungkan premi risiko geopolitik.
Iran sejak lama mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, dengan syarat Amerika Serikat mengurangi tekanan militer, mencabut blokade kepada pelabuhan-pelabuhan Iran, dan memberikan ruang bagi negosiasi lebih lanjut. Meskipun Trump menolak usulan tersebut, sejumlah laporan mengindikasikan bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak masih dapat berlanjut melalui mediasi Qatar.
Kekhawatiran mengenai pasokan energi juga meningkat akibat aktivitas kembali kelompok Houthi di Yaman, yang telah meningkatkan serangan kepada Arab Saudi dan jalur pelayaran Laut Merah. Serangan-serangan ini memperbesar risiko terhadap distribusi minyak dari kawasan Teluk, bahkan di saat arus minyak yang melewati Selat Hormuz mulai kembali meningkat.
Selain minyak mentah
Selain minyak mentah, pasar juga memantau tekanan pada produk energi olahan, khususnya solar. Gangguan kepada ekspor energi dari Timur Tengah dan Rusia telah memperketat pasokan bahan bakar dunia, sehingga mendorong harga solar ke tingkat yang tinggi di beberapa wilayah. Situasi ini berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, sebuah hal yang merupakan perhatian bagi bank-bank sentral global.
Gerakan harga minyak sekarang masih sangat bergantung pada perkembangan diplomasi AS-Iran dan status keamanan jalur energi mancanegara yang vital. Jika Selat Hormuz dibuka kembali tanpa hambatan, tekanan harga dapat mereda. Namun, selama konflik dan serangan kepada infrastruktur energi terus berlanjut, risiko kenaikan harga minyak tetap ada, yang berpotensi kembali berdampak pada inflasi global. (asd)