Brent Tembus US$110! Serangan Kapal di Hormuz Picu Ancaman Krisis Pasokan Minyak
Brent Tembus US$110! Serangan Kapal di Hormuz Picu Ancaman Krisis Pasokan Minyak

🏠 Beranda β€Ί Berita β€Ί Brent Tembus US$110! Serangan Kapal di H…

Oil

Brent Tembus US$110! Serangan Kapal di Hormuz Picu Ancaman Krisis Pasokan Minyak

πŸ“… 2026-10-21   πŸ• 10:30   ⏱️ 2 menit baca   πŸ“° Sumber: newsmaker.idπŸ’¬ WAπŸ“˜ FB🐦 X

Harga minyak dunia kembali

naik pada perdagangan Rabu (21/10/2026), didorong meningkatnya kekhawatiran

kepada gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz serta penurunan

persediaan minyak mentah Amerika Serikat

persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Minyak Brent untuk pengiriman Desember

naik 1,4% merupakan US$110,35 per barel pada pukul 11.24 waktu Singapura,

sementara West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan 1,4% ke level US$99,16 per

barel. Penguatan ini terjadi setelah muncul laporan sebuah kapal tanker

berukuran besar menghantam ranjau laut di Selat Hormuz, sehingga menambah

kekhawatiran kepada keamanan jalur distribusi energi dunia.

Tekanan kepada pasokan semakin

meningkat setelah laporan American Petroleum Institute (API) menjelaskan

persediaan minyak mentah AS turun sekitar 4,9 juta barel pada pekan sejak awal.

Stok bensin dan bahan bakar hasil penyulingan juga dilaporkan mengalami

Stok bensin dan bahan bakar hasil penyulingan juga dilaporkan mengalami

penurunan. Jika angka tersebut dikonfirmasi melalui data resmi pemerintah AS,

penurunan stok minyak mentah akan merupakan yang ketiga secara berturut-turut.

Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa ketersediaan minyak di bursa mulai

Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa ketersediaan minyak di bursa mulai

mengetat, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi kenaikan harga.

Kekhawatiran pasokan juga

tercermin dari kondisi persediaan minyak internasional yang terus menyusut

tercermin dari kondisi persediaan minyak internasional yang terus menyusut.

International Energy Agency (IEA) di awal memperkirakan stok minyak dunia

pada akhir September berada sekitar 500 juta barel di bawah tingkat sebelum

perang, sementara persediaan minyak di fasilitas penyimpanan darat mencapai

perang, sementara persediaan minyak di fasilitas penyimpanan darat mencapai

level terendah setidaknya sejak 2016. Di sisi lain, data awal pelacakan kapal

menjelaskan ekspor minyak non-Iran dari Teluk Persia hanya sekitar 9,1 juta

barel per hari selama 20 hari pertama Oktober

barel per hari selama 20 hari pertama Oktober. Angka tersebut mengindikasikan

bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz masih menghadapi hambatan, meskipun

sebagian aktivitas distribusi mulai pulih.

Ketegangan geopolitik tetap

merupakan faktor utama yang menjaga harga minyak berada pada level tinggi.

Serangan kepada kapal tanker dan infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia

terus meningkatkan risiko gangguan distribusi, sementara konflik Rusia-Ukraina

terus meningkatkan risiko gangguan distribusi, sementara konflik Rusia-Ukraina

turut menekan pasokan dunia. Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump

berupaya menurunkan harga energi menjelang pemilu paruh waktu November melalui

sejumlah langkah, termasuk pelonggaran hambatan perdagangan energi Rusia dan

sejumlah langkah, termasuk pelonggaran hambatan perdagangan energi Rusia dan

kesepakatan ekspor diesel. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya meredakan

kekhawatiran bursa karena pembicaraan damai di Timur Tengah masih menghadapi

ketidakpastian.

Ke depan, harga Brent berpotensi mempertahankan

penguatannya apabila gangguan pelayaran di Selat Hormuz berlanjut dan data

resmi Amerika Serikat mengonfirmasi penurunan stok minyak

resmi Amerika Serikat mengonfirmasi penurunan stok minyak. Secara teknikal,

kawasan US$111–US$112 merupakan area resistance yang perlu diperhatikan,

sementara US$108–US$109 berpotensi merupakan support awal. Jika tekanan pasokan

semakin besar, Brent memiliki peluang menguji level yang lebih tinggi

semakin besar, Brent memiliki peluang menguji level yang lebih tinggi.

Sebaliknya, kemajuan diplomasi atau pemulihan pengiriman minyak dapat memicu

koreksi. Kenaikan minyak juga berisiko memperbesar tekanan inflasi mancanegara,

sehingga market kini mempertanyakan apakah Brent akan terus melaju atau kembali

sehingga market kini mempertanyakan apakah Brent akan terus melaju atau kembali

tertahan oleh upaya meredakan konflik.

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

πŸ“ˆ Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures β€” broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

πŸ“° Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya β€’ Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
πŸ“– Baca juga: Kalkulator Emas • Glossarium Trading

πŸ“° Sumber asli: newsmaker