π Beranda βΊ Berita βΊ Gold Tertekan, Harga Minyak dan Ekspektaβ¦
Gold
Gold Tertekan, Harga Minyak dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Jadi Beban Utama
Harga emas (XAU/USD) kembali berada di bawah tekanan jual kuat pada perdagangan Senin (28/9), turun hampir 3% akibat kenaikan harga minyak yang memperkuat kekhawatiran inflasi dunia serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dari Federal Reserve (The Fed). Kini XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.148 per troy ounce, merupakan level terendah sejak awal Agustus. Tekanan kepada emas meningkat karena investor kembali mengalihkan perhatian pada prospek kebijakan moneter yang lebih ketat.
Koreksi harga minyak masih merupakan faktor utama yang memengaruhi suasana pasar market setelah konflik Timur Tengah menyebabkan gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump di awal menolak proposal Iran untuk membuka kembali jalur tersebut dalam tujuh hari, meskipun ia menyatakan bahwa pembicaraan dengan Teheran masih berpotensi dilanjutkan. Mediator juga kemungkinan kembali mempertemukan kedua pihak untuk membahas kemungkinan solusi bertahap.
Emas yang biasanya merupakan komoditi lindung nilai kepada inflasi dan risiko geopolitik justru belum mendapatkan dukungan signifikan dari kondisi tersebut. Fokus bursa di tengah lebih tertuju pada dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan kebijakan The Fed. Kenaikan imbal hasil Treasury AS, dengan yield 10 tahun berada di level tertinggi sejak 2007, meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Ekspektasi bursa kepada kebijakan The Fed semakin hawkish setelah bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September dan sejumlah pejabat memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada di sekitar 70%, sehingga turut menjaga penguatan dolar AS dan menekan harga emas.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk laporan Personal Consumption Expenditures (PCE), ISM PMI, dan Nonfarm Payrolls (NFP). Data tersebut akan merupakan indikator utama untuk melihat apakah tekanan inflasi masih bertahan dan menentukan arah kebijakan The Fed berikutnya.
Gerakan emas sekarang masih menghadapi tekanan dari kombinasi tiga faktor utama, yaitu kenaikan yield obligasi AS, penguatan dolar, dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Namun, perkembangan geopolitik Timur Tengah serta data ekonomi AS pekan ini dapat merupakan katalis penting yang menentukan arah emas selanjutnya. (asd)