
Minyak AS Ditutup di Dekat $95 usai Sempat Melejit ke $119
Harga Minyak mentah AS ditutup di bawah US$100 per barel pada Senin(9/3), setelah reli intraday yang volatil dipicu perang Iran dan penutupan Selat Hormuz, sementara para menteri energi G7 dijadwalkan membahas opsi pelepasan stok Minyak untuk meredam gangguan pasokan.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 4,26% dan ditutup di US$94,77 per barel. Namun WTI sempat melonjak hingga US$119,48 pada perdagangan semalam, seiring negara-negara Arab Teluk memangkas produksi dan Selat Hormuz tetap tertutup akibat ancaman dari Iran.
Minyak Brent, sebagai patokan global, terakhir tercatat naik 6,48% ke US$98,70 per barel setelah sebelumnya menyentuh US$119,50. Lonjakan tersebut menandai kembalinya harga Minyak menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, sebelum kemudian turun dari puncak sesi.
Sumber yang dikutip CNBC menyebut menteri energi G7 akan menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan Minyak secara bersama-sama. Setiap keputusan terkait pelepasan cadangan diperkirakan dilakukan setelah pertemuan tersebut.
Sinyal kebijakan sudah muncul dari jalur fiskal. Para menteri keuangan G7 yang mengadakan pertemuan virtual pada Senin menyatakan “siap mengambil langkah yang diperlukan,” termasuk mendukung pasokan energi global melalui pelepasan stok. Anggota G7 mencakup Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
Dari sisi fundamental, penutupan Selat Hormuz memperketat pasokan fisik dan mengerek premi risiko karena sekitar 20% konsumsi Minyak dunia diekspor melalui jalur tersebut. Konsultan Rapidan Energy menilai situasi ini sebagai gangguan pasokan Minyak terbesar dalam sejarah, menempatkan Pasar pada kondisi rapuh terhadap berita eskalasi maupun de-eskalasi.
Dari sisi proyeksi, Rystad Energy memperkirakan Brent bisa naik di atas US$110 per barel jika kondisi saat ini bertahan dua bulan, dan berpotensi menembus US$135 per barel bila berlangsung hingga empat bulan, menurut catatan Pasar yang dirilis Senin.
Pelaku Pasar akan memantau hasil pertemuan menteri energi G7 dan kemungkinan pelepasan cadangan, perkembangan status Selat Hormuz dan respons produksi negara Teluk, serta seberapa cepat volatilitas intraday mereda atau justru meningkat seiring ketidakpastian pasokan berlanjut.(yds)
Sumber: Newsmaker.id
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
Analisis Fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.