
Minyak Turun Mingguan, Iran & OPEC+ Jadi Penentu
Harga Minyak menutup pekan ini dengan penurunan mingguan beruntun pertama di 2026, karena Pasar mulai menyeimbangkan dua cerita besar: potensi pasokan OPEC+ yang kembali bertambah dan perkembangan negosiasi nuklir AS–Iran yang bisa menekan risk premium. Di sesi Jumat, pergerakan harga relatif tenang menjelang libur Presidents’ Day di AS yang biasanya membuat likuiditas menipis dan gerak harga lebih “mudah tersentak.”
Di penutupan Pasar, WTI kontrak Maret nyaris tidak berubah dan settle naik tipis +0,1% di $62,89/barel, sedangkan Brent kontrak April menguat +0,3% ke $67,75/barel. Meski begitu, secara mingguan WTI tetap mencatat sekitar -1%, mempertegas bahwa sentimen Pasar masih berat oleh kekhawatiran suplai ke depan dan nada risk-off di aset global beberapa hari terakhir.
Dari sisi geopolitik, perhatian tetap tertuju pada Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyebut AS menambah kehadiran militer di kawasan sebagai “asuransi” bila kesepakatan nuklir tidak tercapai, namun ia juga memberi sinyal optimistis negosiasi bisa berujung sukses. Bagi trader Minyak, campuran sinyal seperti ini biasanya menjaga Pasar tetap waspada: risiko gangguan suplai masih ada, tetapi peluang eskalasi cepat juga dinilai menurun selama jalur diplomasi masih terbuka.
Di saat yang sama, faktor yang paling menekan harga justru datang dari suplai. Sejumlah delegasi menyebut ada ruang bagi OPEC+ untuk kembali melanjutkan kenaikan produksi mulai April, dengan keyakinan bahwa kekhawatiran “glut/surplus” dinilai berlebihan. Meski belum ada keputusan formal (dan pembahasan resmi menuju pertemuan 1 Maret masih terbatas), sinyal arah kebijakan ini cukup untuk menahan minat beli—apalagi setelah Pasar sempat reli di awal 2026 karena headline geopolitik.
Sentimen “pasokan longgar” juga diperkuat diskusi pelaku industri di konferensi energi London yang menilai suplai global berpotensi mengungguli permintaan tahun ini—yang pada akhirnya bisa mendorong inventori naik, terutama di kawasan Atlantik yang ikut mempengaruhi pembentukan harga global. Namun untuk saat ini, efeknya belum sepenuhnya terasa karena masih ada gangguan suplai di sejumlah negara dan penumpukan Minyak bersanksi yang membuat distribusi suplai tidak merata.
Kesimpulannya: Minyak sedang masuk fase tarik-menarik. Selama Pasar melihat peluang tambahan pasokan OPEC+ lebih nyata daripada risiko gangguan Timur Tengah, reli cenderung tertahan dan volatilitas bisa muncul tiba-tiba—terutama saat likuiditas menipis jelang libur dan Pasar lebih reaktif pada headline.(yds)
Sumber: Newsmaker.id
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan Portofolio Investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
Analisis Fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.